"Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."

Saturday, December 15, 2012

Santo Vincentius Ferrer


St. Vincentius Ferrer adalah seorang pahlawan Kristen yang amat mengagumkan. Ia dilahirkan di Valencia, Spanyol pada tahun 1350. Ia berdevosi secara khusus kepada Santa Perawan Maria. Apabila orang berbicara tentang Bunda Maria, ia merasa sangat bahagia. Ketika berusia tujuh belas tahun, Vincentius masuk Ordo Santo Dominikus. Ia seorang yang sangat pandai dan berhasil baik dalam studinya. Vincentius juga seorang yang tampan, tetapi ia tidak pernah sombong ataupun tinggi hati atas semua kelebihan yang dimilikinya.

Pada mulanya, Pastor Vincentius mengajar di berbagai perguruan tinggi. Kemudian ia menjadi seorang pengkhotbah yang termashyur. Ordo Santo Dominikus disebut juga Ordo Para Pengkhotbah. Selama dua puluh tahun, Pastor Vincentius berkhotbah di seluruh Spanyol dan Perancis. Meskipun pada masa itu belum ada mikrofon, suaranya yang lantang dapat terdengar hingga jauh. Banyak orang bertobat hanya dengan mendengarkan khotbahnya. Bahkan seorang rabi terkenal, Paulus dari Burgos, menjadi seorang Katolik pula. Paulus kemudian menjadi seorang imam dan akhirnya Uskup Cartagena, Spanyol. Banyak orang Katolik sangat terkesan dengan khotbah-khotbah dan teladan kekudusan Vinsentius, sehingga mereka menjadi lebih saleh. Umat Katolik yang dulunya tidak mengamalkan iman mereka, sekarang berubah. Mereka menjadi taat dan saleh sepanjang hidup mereka.

St. Vincentius mengandalkan Tuhan. Ia juga minta bantuan doa dan matiraga dari banyak orang demi keberhasilan khotbah-khotbahnya. Ia sadar bahwa bukanlah kata-katanya ataupun bakat-bakatnya yang memenangkan hati banyak orang. Oleh sebab itulah, ia selalu berdoa sebelum berkhotbah. Namun demikian, dikisahkan bahwa suatu ketika, ia tahu bahwa seseorang yang amat penting akan mendengarkan khotbahnya. Ia bekerja lebih keras dari biasanya untuk mempersiapkan khotbahnya, sehingga ia tidak sempat lagi berdoa. Khotbah tersebut, yang telah dipersiapkannya dengan amat seksama, ternyata tidak terlalu mengesankan sang bangsawan. Tuhan membiarkan hal itu terjadi untuk mengajarkan kepada Vincentius agar tidak mengandalkan diri sendiri. Di kemudian hari, bangsawan yang sama datang lagi untuk mendengarkan khotbah Pastor Vincentius. 

Tetapi, kali ini Pastor Vincentius tidak mengetahuinya. Seperti biasa, ia berdoa serta mengandalkan segala sesuatunya kepada Tuhan. Sang bangsawan mendengarkan khotbahnya dan sungguh sangat terkesan dengan apa yang telah ia dengar. Ketika Vincentius diberitahu menganai hal tersebut, ia berkata: “Dalam khotbah pertama, Vincentius-lah yang berbicara. Dalam khotbah kedua, Yesus Kristus-lah yang berbicara.”
St. Vincentius wafat pada tahun 1419. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Nikolas V pada tahun 1455.

Santo Thomas Becket dari Canterbury, Uskup dan Martir


Thomas Becket lahir di London pada tahun 1118. Orang-tuanya berkebangsaan Normandia. Semenjak kecilnya, Thomas menunjukkan bakat-bakat yang luar biasa. Ibelajar di biara Merton di Surrey, kemudian di London dan Paris. Pada usia 21 tahun ia sudah berkecimpung di dunia politik di London. Kepandaiannya menarik hati Theobaldus, Uskup Agung Canterbury sehingga ia ditahbiskan menjadi diakon dan dibebani macam-macam tugas.

Akhirnya namanya yang harum itu terdengar juga oleh Raja Henry II. Atas rekomendasi Uskup Theobaldus, Raja Henry II mengangkat Thomas menjadi penasehatnya. Sebagai seorang abdi sekaligus sahabat Raja, Thomas mendampingi Raja dalam berbagai urusan kenegaraan. Ia menyusun dan mengatur perjanjian damai dengan Prancis pada tahun 1160. Sepeninggal Uskup Theobaldus pada tahun 1161, Raja Henry mengangkat dia menjadi Uskup Agung Canterbury karena ia membutuhkan seorang pendamping yang mampu membantunya dalam urusan-urusan kerajaan. Thomas sendiri sangat segan menerima jabatan mulia itu. Tetapi demi kelangsungan kepemimpinan di dalam Gereja, Thomas akhirnya dengan rendah hati menerima juga jabatan itu. Setelah ditahbiskan menjadi Uskup Agung Canterbury, Thomas mengundurkan diri dari jabatan penasehat raja agar supaya ia lebih leluasa menjalankan tugas-tugas kegembalaan. Ia meninggalkan gelanggang politik, meninggalkan Segala kemewahan duniawi, lalu mulai lebih memusatkan perhatian pada bidang kerohanian, kasih amal dan studi teologi. 

Hidupnya ditandai dengan kesederhanaan. Ia gigih membela hak-hak Gereja dari rongrongan pihak mana pun. Dengan tegas ia menolak menandatangani Konstitusi Klarendon, suatu dokumen yang memberikan hak kepada pemerintah untuk campur-tangan di dalam urusan-urusan Gerejawi. Karena itu Henry mulai mengambil tindakan keras terhadapnya. Dalam suatu pertemuan di Northampton pada tanggal 13 Oktober 1164, Thomas secara terbuka menentang Henry dengan meninggalkan pertemuan itu. Ia naik banding kepada Paus dan mengasingkan diri ke Prancis. Raja Louis VII menyambut baik kedatangannya dan mengizinkan dia tinggal di sana selama 6 tahun. Raja Henry mengambil alih seluruh kekayaan keuskupannya. Namun Paus tidak mengizinkan Thomas meletakkan jabatannya. Pada tahun 1170 Henry menawarkan perdamaian dengan Thomas dan mengizinkan dia kembali ke Inggris.

Pada bulan Desember 1170, Thomas kembali ke Inggris dan diterima dengan meriah oleh seluruh umat. Namun ia tidak mau mengampuni uskup-uskup yang memihak raja sebelum mereka bersumpah setia kepada Paus. Ia bahkan memanfaatkan isinan Paus Aleksander III yang diberikan pada tahun 1166 untuk mengekskomunikasikan uskup-uskup itu. Tindakan ekskomunikasi ini membuat raja sangat kesal dan marah. Empat orang perwiranya segera diperintahkan ke Canterbury untuk membunuh Thomas. Ketika itu Thomas sedang melakukan ibadat sore di dalam katedralnya. Empat perwira itu segera menyergap dan membunuh Uskup Thomas di depan Sakramen Mahakudus. Peristiwa sadis ini terjadi pada tanggal 29 Desember 1170.

Thomas dari Canterbury segera dihormati sebagai orang kudus oleh seluruh umat dan tempat di mana ia dibunuh dihormati sebagai tempat keramat. Raja Henry merasa puas dengan pembunuhan itu. Namun suara hatinya terus mengusik batinnya sehingga pada tahun 1172 ia membatalkan Konstitusi Clarendon dan melakukan pertobatan di hadapan seluruh umat. Pada tanggal 21 Februari 1173, Aleksander III secara resmi mengumumkan kanonisasi Thomas. Tempat pembunuhannya menjadi salah satu tempat ziarah terkenal di Eropa sampai Raja Henry VIII membongkarnya dan mengambil alih kekayaannya pada tahun 1538. Kata-katanya terakhir sebelum menghembuskan nafasnya ialah: "Aku bersedia mati demi nama Yesus dan Gereja-Nya."